
Setelah beberapa kali film indo yg kita tonton horor melulu, pada akhirnya kita dapet juga film drama. Ga tanggung2, kita nonton film yang berhasil digunduli oleh Ekskul di ajang FFI 2006 kemaren, filmnya koya pagayo (maksudnya kaya bahasa wartawan bola gitu). Sambil berbagi cemilan dan coca cola, kita nonton Berbagi Suami. Sekarang, saya mau berbagi info.
Dalam film ini ada tiga cerita yang satu sama lainnya nyambung secara ga langsung, meskipun satu2nya persamaan adalah suami yang bisa dibagi2. Cerita pertama adalah tentang pergolakan batin sebuah keluarga, di mana sang ayah yang alim berpoligami. Istrinya yang berpendidikan tinggi awalnya terpukul, tapi terpaksa berkompromi. Akhir cerita kita diperlihatkan, apa yang ia peroleh setelah perjuangan yang melelahkan selama sepuluh tahun.
Trus cerita kedua. Di sini ada keluarga miskin yang tak jelas alasannya, sang suami berpoligami. Berapa orang? Meet the dynamic trio: Ria Irawan, Rieke Dyah Pitaloka, dan Shanty. Di sini keadaan yang getir mereka jalani dengan senyum, tanpa dalih2 agama, tanpa rebutan harta. Sejauh apa para istri bisa berdamai? Cerita yang ini akan menjawabnya.
Trus cerita ketiga adalah yang paling klasik, tentang istri simpanan. Seorang pengusaha cina naksir pada pegawainya. Masalahnya dia adalah anggota ISTI. Ketika hasrat tak bisa dibendung, kepala bawah pun pusing, maka jadilah si pegawai simpanannya. Petak umpet jadi tema utama. Karena mereka Katolik, maka poligami jelas tak halal buatnya. Lalu, yang mana? Si sexy atau si galak?
Film ini benar2 lain dari film indo lainnya. Alurnya unik. Cara nyambungin ketiga cerita juga lucu. Dan kita ga usah berpikir keras, tapi kita tetap dapet maknanya. Karena ringan, kita juga ga bosen. Efek2 ngagetin juga ga ada di sini. Tokohnya juga ga melotot kalo marah. Dan ga teriak2 berlebihan. Para artisnya jadi cantik karena karakter tokoh2nya yang unik. Rada mengganggu emang jilbab si Jajang yang koq kamse yah. Padahal orang kaya. Kata temen saya malah tatonya keliatan. Ya mungkin ada detil yang kurang, tapi secara keseluruhan ga ngganggu cerita. Tetep worth to see. Apalagi buat saya, yang minggu lalu nonton Bangku Kosong. Otak saya yang jadi ikutan kosong diisi lagi sama film ini.
Nia Dinata memberikan solusi yang tepat bagi kita yang capek berdiskusi soal poligami. Ini caranya berdiskusi yang intelek. Ga usah tanding ayat AlQuran, ga usah tanding hadits, jangan memaksa dan jangan saling menghakimi. Ada yang bisa menerima, ada yang tidak. Period.
Dan saya, selama ada cara lain untuk jadi istri yang dimuliakan, poligamy is out of question.