Terakhir saya nonton film Malaysia, sejujurnya bukanlah pengalaman yg menyenangkan. Sebuah film romantis produksi 80an dengan para pemain yang jauh dari cantik dan ganteng dengan dialog2 semodel lagu Gerimis Mengundang. Saya (waktu itu masih SD) menontonnya sampai tamat, karena saat itu saya berpikir, Malaysia adalah negara keren yang selangkah lebih maju dari Îndonesia. Tapi sampai film tamat, tak saya temukan bukti dari pemikiran saya, sehingga saya lupakan saja film kamse itu.
Lalu belasan tahun kemudian saya menemukan Cicakman. Film eksyen-komedi-fantasi dibalut dengan (kelihatannya) special efek dan desain grafis yg keren, yang bisa saja membuktikan pemikiran saya belasan tahun yang lalu.
Hasilnya??
Memang sebuah pengalaman yang tak mudah dilupakan. Saya tak akan melupakan Cicakman seperti saya melupakan film sok romantis kamse yang buang2 umur itu. Film ini benar2 membawa kesan yang mendalam yang tak hilang meskipun setelahnya saya masih menonton 2 seri film Lion Maru.
Alkisah, di kota Metrofulus yang canggih dengan trem dan salju serta orang melayu (it rhymes!), seorang ilmuwan bernama Hairi tanpa sengaja meminum seekor cicak yang digunakan dalam percobaannya (ha?!). Sejak saat itu, dia jadi punya keahlian2 yang aneh semisal: bisa nempel di dinding atau atap, bisa nangkep serangga dengan lidahnya, dan bisa takut karet gelang. Serius, saya ga boong. Hairi yang tampangnya beda2 tipis ama campuran amy search dan anita sarawak benar2 melotot ketakutan kalo liat karet gelang. Keren, dia bahkan lebih mirip cicak daripada cicak itu sendiri, karena kadang cicak aja lupa kalo dia seharusnya takut ama karet gelang.
Pada saat yang bersamaan Profesor Klon dengan antek2nya berupa si kembar aneh sedang melancarkan suatu rencana jahat, yang ujung2nya untuk ‘menguasai Metrofulus’. Hairi dan Donny sahabatnya berusaha menggagalkan rencana mereka, dan dalam usahanya tak sengaja menyeret sekretaris Prof Klon yaitu Tania, yang diam2 dicintai Hairi dan Donny. Akan tetapi profesor Klon sudah beberapa langkah lebih maju, dia sudah siap mengkloning semua menteri (cuman 5 mentrinya, makanya cepet ke-kloning semua) dan menculik yg asli serta menggantinya dgn yg palsu agar semua tunduk padanya. Kedudukan Hairi sang Cicakman jadi sulit, karena dgn itu dia malah jadi buron, selain itu Tania yang mengira Cicakman adalah Donny, akibat kesalahpahaman malah jadi berbalik membencinya, ditambah lagi dengan kenyataan pahit bahwa sebenarnya keahlian yg dimiliki Hairi adalah penyakit yang akan bertambah parah dan dia terancam jadi cicak untuk selamanya. Atau untuk ukurannya, jadi biawak.M
Bagaimana, cukup menarik ceritanya? Kalo ga jelas silahkan layangkan pertanyaan kepada kami, akan kami coba untuk menjawab sejelas2nya. Mungkin malah lebih jelas dari filmnya.
Kota Metrofulus, yang hampir semuanya dibangun di dalam green screen (orang2 akting di depan layar warna ijo yang nantinya di-crop dan diisi dgn latar belakang bangunan tinggi, taxi2 yellow cab, trem, salju), menurut saya adalah kota tanpa cacat cela. Ia bisa bersalju pada hari ini, dan esok harinya salju hilang 100% tanpa bantuan dinas kebersihan. Meski beriklim dingin, orang2 tetap bisa menjemur pakaian di atap gedung bak di rumah susun, dan mereka juga bisa duduk2 di sana mengobrol dgn baju lengan pendek. Pengalaman saya di sini, kalo lagi musim dingin kita malah jemur pakaian di luar, yang ada jadi ketawaan tetangga aja. Ini bisa jadi kota idaman, bisa juga jadi pertanda bagaimana global warming telah memasuki tahap yang gawat.
Terus terang kalo melihat gaya komedinya, saya jadi teringat lenong betawi. Mereka senang sekali berteriak untuk memasukkan unsur komedi. Bedanya Lenong adalah kesenian tradisional yang perlu dilestarikan dan mungkin sebentar lagi dipatenkan Malaysia, sementara Cicakman jadi polusi suara mengalahkan efek suara pesawat terhadap telinga makhluk hidup. Yang berperan besar dalam perusakan indra pendengaran ini contohnya Profesor Klon dan si kembar aneh. Sang Profesor dengan gaya jahat berlebihan sibuk dgn ketawa dan jejeritan, dan si kembar sibuk dengan ngomong yang tiap katanya diucap satu2: ’Kami….tidak…butuh…uang…bapak…kami…kaye…’ semuanya sambil teriak. Sementara Hairi yang juga banyak ngelucunya seringkali meluncurkan lawakan yang ketinggalan jaman, contohnya: ‚kau tau ape yang aku fikirkan? Hehehe…Tentu saja kau tak tahu, kerana aku tak fikir ape2.’
Kekonyolan2 yang dilakukan cicakman pun kadang malah bikin kita melengos. Waktu dia mau nyari menteri2 yang asli di antara kloningan2 mereka, di mana semuanya diikat tangan kakinya dan diplester mulutnya, dgn jayus dia malah bilang: ‚yang asli, ayo tunjuk tangan!!’
Sedangkan dari segi kostum, seringkali rada berlebihan seperti operet Bobo. Profesor Klon contohnya, kalo nggak pake jas kotak2 bak kartun, pake jubah raja menjuntai-juntai padahal di rumah doang. Kembar ga penting itu apalagi, pake setelan jas kulit coklat, wig coklat, kacamata item, sepatu pun di-pylox emas. Sementara para jagoannya pake baju rapih kecuali Hairi yang meski ilmuwan gayanya lebih mirip penyanyi hip hop. Untuk bagian kostum, saya teringat model film2 Batman.
Sedangkan dari segi ide, banyak sekali suntikan ide dari sana-sini. Awal2 perubahan Hairi, rada2 mirip cerita Spiderman. Awalnya Hairi pake kostum yang mirip Superman, soalnya pake celana kolor merah di bagian luar. Tapi kemudian dia bikin kostum yang mirip spiderman. Keahlian2nya pun nggak jauh beda sama Spiderman. Dan jangan khawatir, kalau di Spiderman 3 ada Spiderman Black, di Cicakman 1 ada juga Cicakman Black.
Tapi jangan khawatir para penggemar Batman, banyak koq adegan2 mirip Batman terutama kalo malam Metrofulus jadi rada mirip Gotham City. Belom lagi bulan purnama segede gong sering ada di latar belakang adegan berantem.
Nggak pa-pa, Cicakman kan masih serumpun sama Spiderman, Batman dan Superman. Sama2 superhero toh?
Ada yang aneh waktu cicakman mencoba terbang. Tiba2 terdengar lagu dengan lirik berikut: ‚kupercaya ku bisa terbang…’ dgn aransemen mirip lagu R: Kelly ‚I Believe I can Fly’. Apa R.Kelly lupa mematenkan lagu itu?
Yang bagi saya selalu orisinil dalam sebuah film, adalah alur cerita. Meski segi kostum, ide, desain grafis udah pada canggih, kalo boring ya boring aja. Dari sinilah saya selaku penonton yg awam memberikan penilaian yg paling berpengaruh. Cicakman, berhasil mendapatkan penilaian buruk dari saya. Sepanjang film, saya berusaha keras untuk tetap konsen, tetap terjaga, dan tetap di tempat tanpa mematikan film. Tapi cerita cicakman terlalu klise untuk saya. Perang batin, pengorbanan, kisah cinta yang selalu jadi bumbu film2 superhero kali ini tidak bisa membantu saya untuk menganggap cicakman adalah tokoh yang hebat. Apalagi kalau dipikir2, cicakman memang tak ada hebatnya sama sekali. Kalo menangnya ga kebetulan, berarti ada yg bantuin. Akhir cerita yang maksudnya mau mengharukan malah cuman bisa bikin kita bengong2, apa ini maksudnya, mau bikin yg keduanya? Lu pikir gue masih mau nonton???
Karena itulah, usai menonton Cicakman, kami masih harus menonton 2 seri Lion Maru lagi. Tentang superhero juga, yang berbalut komedi, tapi beneran lucu. Tapi saya, tetap trauma. Pemikiran saya belasan taun yg lalu, lagi2 tak terbukti.
Saya jadi memaklumi, kenapa Malaysia banyak mengadopsi kebudayaan kita tanpa seizin kita. Anda mau tau apa yang bisa mereka hasilkan tanpa campur tangan kebudayaan kita? Cicakman!