Love is Cinta

“Dengan akan diputar secara serentak di 90 layar di bioskop kota-kota besar pada 16 Mei ini, kami optimis film ini akan melampaui pendapatan film GHOST di masa jayanya,” -Chand Parwez, produser

Dalam MY HEART kita memang melahirkan ikon Acha – Irwansyah, dan di film ini ikon tersebut kita pasangkan kembali untuk menderek produk kita,” -Hanny R Saputra, sutradara

“Saya secara pribadi sangat puas dengan pencapaian ini sebagai kemajuan dalam memaksimalkan orchestrary,” -Dian HP, ilustrasi musik

Oke. Proyek yang terlihat menjanjikan sekali. Apalagi didukung promo gede2an Chand Parwez dengan embel2 ’saya akan bawa film ini ke Cannes’-nya. Apakah semua faktor yg mendukung ini cukup untuk membuat satu film bermutu?

Sama aja dgn pertanyaan: apakah anak orang kaya sudah pasti pintar?

Cinta (Acha Septriasa) dan Ryan (Irwansyah) sudah lama dekat tanpa status yg jelas. Meski saling suka si Ryan ga pula nembak2 krn ga pede ngomong cinta (malesss bgt tipe cowok kaya gini, tendang aja!!). Lalu si Ryan meninggal dgn cara yg sangat heroik (worth to see!! Benar2 memperlihatkan bagaimana bodohnya tokoh Ryan). Nah saat itulah, dengan pertolongan malaikat gay (dugaan saya sih), dia berhasil minta perpanjangan waktu 3 hari di dunia untuk menyatakan cinta dgn menggunakan tubuh seorang gay (Raffi Ahmad) yg mati bunuh diri lengkap dgn busa2 dari mulutnya. Maka si gay yg sebenarnya Ryan pun hidup kembali, dan sibuk mengejar2 Cinta agar dia mau menerima cintanya. Dari sini, rasanya ditebak aja juga ga akan beda2 jauh sama aslinya.

Saya akan berusaha rasional. Kalau tiba2 ada seorang cowok tak dikenal dateng ke saya dan bilang, ’saya tau semua tentang kamu. Kamu sukanya makan apa, duduk di mana, tinggal di mana, bahkan pembalut yg kamu pakai pun saya tau.’ saya akan totally freaked out. Mungkin saya akan :

a. menampar orang tersebut lalu lari jauh2
b. teriak ‘you pervert!!’ lalu lari jauh2
c. telpon polisi lalu lari jauh2

Tapi, Cinta mungkin entah sangat pemberani atau agak telmi. Dia cengengesan aja. Saya lebih setuju kalau dia telmi, krn waktu adegan lulus2an aja, nyanyinya di sini senang di sana senang.

Ada lagi si Ryan. Setelah wajahnya berubah dan dia menemukan kartu nama dirinya sendiri, daripada pulang ke alamat yg tertera di alamat tsb, dia malah pulang ke rumahnya sendiri, yang berakibat tentu saja digebukin bapaknya sendiri. Entah pemberani, atau telmi.

Lalu Hanny R Saputra selaku sutradara yg dengan segala ketelitiannya membuat Ryan yg akan bersekolah di Amerika malah berangkat ke Singapura. Mohon jangan bilang mungkin saja dia transit, karena pengumuman untuk transit nggak bakal kayak gitu. Dan seolah adegan itu kurang bodoh, si Ryan memutuskan meninggalkan saja itu pesawat sesaat saja sebelum boarding. Hello??? The luggages, sir???? Emangnya berangkat sekolah ke luar negeri cuman bawa tas ransel doang???

Banyak sekali kebodohan2 yg harus kita telan di film ini. Sejumlah adegan ga penting yang entah karena mereka berpikir akan jadi lawakan segar atau karena tanpa itu filmnya terlalu sebentar juga lumayan mengganggu konsentrasi (dan konsentrasi itu perlu karena tanpa itu kita akan ketiduran). Tapi tampaknya para pembuat film ini ingin sekali membuat kami tertidur, karena mereka masih menambah adegan acha septriasa nyanyi pake suara kentut yang fals.

Yang paling disturbing lagi: adegan terbang2 di langit dgn pengambilan gambar yang ga indah. Apakah adegan dengan efek ala kadarnya itu harus saya bilang romantis? Apa di jaman milenium gini masih ada orang yg memimpikan terbang berdua dgn pacar seperti halnya superman dan lois lane?

Heart, pendahulunya film ini, sangat terbantu dengan kehadiran Nirina Zubir meski di seluruh film dia kerjaannya ngeden sampe nangis. Aha, kata sang sutradara, kita pasang lagi nirina sebagai cameo. Maka jadilah dia, pembawa berita tivi yg rambut dan poninya beda warna (emang lagi ngetrend apa ya?). Selebihnya, kita kasi aja peran ngeden ke Raffi Ahmad. Maka Raffi Ahmad pun ngeden dan teriak kanan kiri dengan dialog itu2 saja: GUE RYAN!! GUE RYAN!!

Sementara Acha dan Irwansyah (kenapa sih sebenarnya dua orang ini beken? tampang biasa, bakat ga ada, suara nyelekit, kuliah juga ga jelas) berhasil mempertahankan performance mereka yang buruk. Acha mengernyit jika tertawa, dan nyengir kalau sedih. Sedangkan Irwansyah selalu mangap di hampir setiap adegan.

Bahkan ide cerita pun sebenarnya tak orisinil, mirip bgt ama film Fly Me to Polaris. Bedanya, kisah cinta si Kepala Bawang dan suster cantik di film tsb berhasil dikemas jadi tidak menyebalkan dan justru malah mengharukan. Love is Cinta bahkan ga bisa bikin judul yg lebih bagus dari Fly Me to Polaris.

Bagi saya, film ini masuk dalam kategori Ga Penting Abis. Saya jadi tertarik ingin membuat awardnya. Film ini akan bersaing ketat dengan sederet film2 indo yang saya tonton akhir2 ini. Hanny R Saputra, tetaplah memproduksi film2 semacam ini. Akan saya beli semua dvd-nya, saya bundel dan saya beri judul di sampulnya: film tercela.
btw, kabarnya ada abg yg nangis nonton film ini. MASA SIIH????
masa bodo.

Tinggalkan Balasan