The Unseeable
Thailand.
Negara yg paling sering saya cela bahasanya. Vocab-nya yang janggal, nama-nama orang yang aneh-aneh sejenis Ayam, Pithon, dan anggota bonbin lainnya, dan dialeknya yang sengau. Anda tau apa bahasa Thailand-nya kuda? “Maaaaak.” Itu cara pengucapannya. Harus panjang dan cempreng. Saya selalu mencela, kenapa mereka menganggap kuda adalah emaknya.
Lalu mereka bikin film.
Perlu diingat selama membaca review saya, film the Unseeable bukan film Thailand terbaik yang pernah saya tonton. Dari judulnya saja udah ketauan kenapa saya nggak suka. Mengingatkan saya kepada film Psikopat dgn tagline: “are they last holiday?”
Nah, sesuai bahasa Inggris yg benar, tentunya saya akan lebih suka kalau judulnya “the Invisibles”. Atau sementok-mentoknya “the Unseenable”, maybe?
Tapi akhirnya, bukan cuma penjelasan yang didapat Nualjin, tapi juga sebuah kenyataan yang mengerikan yang membuatnya harus lari bersama bayinya dari rumah itu.
Plot ceritanya simpel sekali. Saya nggak ada niatan menontonnya waktu baca plot ceritanya, tapi saya butuh tontonan lain setelah dibikin mabok BBB. Tapi ternyata filmnya mengalir dengan lancar, nggak boring, dan juga nggak berat. Banyak kejutan-kejutan yang tak terduga yang beneran ngagetin. Dan pada akhir film saya berpikir: meski idenya klise, film ini tetap sesuatu yang worth to see.
Satu nilai plusnya dari film ini, meski sang nyonya rumah digambarkan kebarat-baratan, aspek lainnya sangat bergaya Asia Tenggara. Dari rumah panggung, pemandangan kebun, pernak pernik di dalam rumah, bahkan sampai legenda-legenda hantunya suka mirip Indonesia (tapi tenang, mereka tidak nyolong batik, reog, “Rasa Sayange” dll dsb seperti saudara serumpun kita yang satu lagi). Dan segi Asia ini benar-benar menggugah saya, karena film-film Indonesia suka sekali menyembunyikan antiknya kebudayaan kita dan menutupnya dengan kebudayaan barat dengan menyuguhkan anak-anak gaul, mobil mewah dll dsb.
Untuk kategori film horor, film ini memang kurang horor. Mungkin karena film ini tidak membawa gaya hantu Jepang yang ngesot-ngesot, rambut panjang baju putih, dan bunuh-bunuh orang dengan alasan nggak jelas. Darah-darah menggenang dan kotoran lainnya juga tidak ditemukan di sini. Jadi, bisa dibilang ini adalah horor yang cukup sopan. Kekuatannya memang bukan di penampakan hantu, tapi di alur cerita. Jadi, meski kurang horor, tetap saja jadi nilai plus lagi karena kesopanannya.
Sisi kelemahannya hanya pada detil-detil yang sebenarnya juga tidak mengganggu. Di Asia tahun 50-an, saya rasa tidak ada rumah untuk pembantu semewah itu. Meski untuk rame-rame, tetap kurang menggambarkan kurang manusiawinya majikan-majikan Asia Tenggara saat itu. Selain itu, Nualjin yang baru melahirkan kadang terlihat punya energi berlebihan, di samping juga perutnya yang langsung langsing (ngiri ceritanya). Kadang juga dia jalan-jalan gak penting di taman tanpa membawa bayinya. Jadi, siapa yang jaga tu bayi? Kevin Federline?
Dan ending cerita, saya rasa harus dianugerahi satu bintang khusus karena tidak satupun dari kami penontonnya yang berhasil menebak akhir ceritanya. Dan dengan demikian, saya jadi makin merasa orang-orang Indonesia seperti saya ini, hanya bisa menertawakan negara lain tanpa bisa memiliki the last laugh. Apalagi mengingat yang saya tulis di atas, ini bukan film Thailand terbaik yang saya tonton. Masih ada Shutter, Dorm, dan Nang Nak. Tapi Unseeable kualitasnya jauh sekali di atas film-film Koya Pagayo dan ‘the Bollywood mobs’ yang paling bagus sekalipun. Bahkan Ekskul pun nggak ada se-ketombe-ketombe-nya Unseeable. Dan saya merasa sedikit malu, di saat Thailand bisa menghasilkan beberapa film bagus selama setahun, saya hanya bisa memberikan 5 bintang setahun sekali terhadap film Indonesia. Sedikit info, ada yang tau bahwa Universitas Chulalongkorn peringkatnya jauh lebih tinggi daripada universitas-universitas di Indonesia? Nggak cuma di film, di pendidikan pun kita apes.
PS: Mohon jangan bilang saya tidak nasionalis, memuji-muji film luar dan mencela film dalam negeri. Karena setau saya, sifat nasionalis dan berbohong tidak ada hubungannya.